Bahana Bungkam

Sebuah suara sejatinya tersampaikan ke khalayak luas, namun ia lenyap di tengah jalan

Terkini

Masihkah Ada Pungutan Liar?


Bahana BungkamPraktik premanisme sudah bertahun-tahun terjadi di Pasar Jaya Cijantung ini. Aneka pungutan liar mereka dengan alasan uang keamanan, uang bongkar dagangan, dan uang lain-lainnya.
Sejumlah pedagang di Pasar Jaya Cijantung, Jakarta Timur selalu cemas  karena adanya pungutan liar (pungli) yang dilakukan oleh preman. Hal ini membuat para pedagang selalu berfikir bagaimana cara mengatasi pungli.
Salah satu pedagang yang dapat dimintai keterangan ini bernama Surmawati yang berjualan makanan. Saat dimintai keterangan tentang pungutan liar yang terjadi di Pasar Jaya Cijantung ia merasa cemas jika sewaktu – waktu preman berkeliling untung berpatroli.
Surmawati menjelaskan bahwa pungutan liar ini sudah dialaminya dari lama, tepatnya saat ia mulai membuka kios. Para preman ini meminta uang sebesar Rp10.000,00 per hari kepada dia.
“Setiap hari saya jualan sayur lontong di kios, mereka minta uang sama saya Rp10.000,00 mas,” ujar Surmawati saat menyiapkan makanan.
Para preman ini meminta uang pungutan liar kepada pedagang dengan dalih demi keamanan berjualan di sana. Mereka menjanjikan kepada pedagang tentang keamanan dan kebersihan kios yang ditempati.
“Pertama kali saya membuka kios di sini mereka datang bergerombol dan menawarkan keamanan dan kebersihan dengan tarif Rp10.000,00 per hari,” ujar Surmawati dengan nada gugup.
Setelah diceritakan, Surmawati menyewa kios seharga Rp.15.000.000,00 (lima belas juta rupiah) tiap tahun kepada seseorang yang memiliki hak atas kios tersebut. Ia setiap hari mendapatkan pemasukan sebesar Rp100.000,00 dan itu belum dipotong dengan pungutan liar yang dialaminya setiap hari.
Surmawati berjualan sayur lontong ini hampir 10 tahun lamanya. Pengalaman terburuknya adalah kios dagangannya dihancurkan karena ia tidak membayarkan setoran yang biasanya diberikan ke preman.
“Waktu itu mereka minta setoran, saya ga kasih. Saya bilang kalo udah kasih ke atasannya. Pagi harinya saat saya ingin berjualan, kios saya sudah berantakan. Sampah ada di mana – mana dan kaca pecah semua,” ujar Surmawati dengan nada gugup.
Setelah kejadian tersebut Surmawati membayar setoran sesuai kesepakatan. Ia berharap ada aparat penegak hukum yang memberantas praktik yang merugikan pedagang di Pasar Jaya Cijantung.
Pungutan liar ini juga dialami pedagang alat ritual keagamaan bernama Baron yang tidak jauh dari kios Surmawati. Baron tiap hari didatangi oleh preman yang berbeda - beda untuk meminta uang setoran sebesar Rp5.000,00 .
Setelah diamati kios Baron memiliki luas 5 M lebih kecil dari pada kios yang dimiliki Surmawati. Kiosnya pun terbuat dari bambu tetapi tidak ada penutup dari luar dan beratapkan seng saja.
Baron juga mengeluhkan adanya pungutan liar yang menimpa dirinya. Para preman yang meminta setoran ini seringkali menggunakan nada tinggi atau dengan tatapan tajam.
“Preman di sini kalo minta setoran serem mas. Waktu itu siang hari preman ke kios saya minta setoran sambil mukul meja,” ujar Baron saat merapikan dagangannya.
Saat dimintai keterangan tentang kepada siapa bisa sewa tempat di sini, Baron menjelaskan bahwa untuk menyewa kios ke orang lain yakni pemilik tanah. Baron enggan menyebutkan siapa nama pemilik dari tanah yang ia sewa.
“Kalau sewa tempat di sini itu ke orang yang punya kios mas. Saya sewa kios ini dari orang itu,” ujar Baron saat di temui.
Lain cerita dari pada pedangang yang berjualan di dalam Pasar Jaya Cijantung ini. Mereka menjelaskan bahwa dulu pernah dimintai setoran oleh preman, tetapi saat ini preman tidak berani lagi meminta setoran.
Setelah diselidiki preman ini tidak berani melakukan pungutan liar di dalam karena saat ini pasar sudah dilindungi oleh aparat kepolisian. Para preman hanya berani meminta setoran kepada pedagang yang berada di luar pasar.
Sawal adalah penjual bumbu dapur memberikan keterangan bahwa sebelum pasar ini direnovasi preman masih berkeliaran di sini. Mereka meminta setoran kepada para pedagang sebesar Rp5.000,00 per hari.
“Dulu sebelum ini pasar direnovasi preman banyak buat narikin setoran. Tapi abis direnovasi preman pada pergi keluar pasar,” ujar Sawal saat ditemui.
Saat ini bagian dalam pasar sudah aman dari praktik premanisme karena adanya dukungan dari aparat kepolisian setempat. Para pedangan yang berada di dalam merasa lega bahwa mereka dapat berjualan dengan aman dan nyaman.
“Sekarang saya kalo jualan tidak takut lagi. Saya tidak perlu berurusan dengan para preman di sini,” ujar Sawal dengan tersenyum.
Meski Sawal berjualan dengan aman, ia merasa prihatin dengan para pedagang di luar pasar yang terkena pungutan liar. Ia berharap bahwa aparat juga menindak tegas segala pungutan liar yang terdapat di Pasar Jaya Cijantung.
Pasar Jaya Cijantung ini menyediakan kebutuhan sehari – hari masyarakat, mulai dari Sembilan bahan pokok (sembako) hingga pakaian. Masyarakat akan terganggu jika para preman ini masih berkeliaran di pasar. (MLP)

Tidak ada komentar